BISMILLAHIRROHMAANIR ROHIIM
Judul : BETAPA AWAN HITAM MERINTIH
Disebuah desa terpencil Dusun Cinangka , Desa Cimanggung,
Kec.Cimanggung Kab.Sumedang, dari sinilah cerita ini berawal. Sebuah gubuk
kecil sederhana, terdapat didepan rumah tanaman pohon jambu air yang menjulang
tinggi.
Hari yang cerah, matahari memberikan cahayanya yang putih,
hangat nya memudarkan embun pagi yang bersembunyi dibawah dedaunan, tak
terkecuali pohon jambu air yang besar dan menjulang tinggi serta buah jambunya
yang ranum kemerahan, didepan sebuah gubuk sederhana yang tersinari matahari,
walau tidak mewah tapi terlihat bersih dan nyaman.
Terlihat wanita paruh baya sedang menyapu halaman.. tiba-tiba
pintu terbuka seorang gadis kecil keluar dengan mengenakan seragam SMP lengkap
dengan atributnya. Tapi tak terlihat senyuman diwajahnya yang terbilang ayu, gadis
kecil mungil itu seolah menyimpan kehancuran yang dalam didalam hatinya, terlihat
dari bola matanya yang sembab sepertinya
bekas tangisan. Serentak ibunya menyimpan sapu lidinya dan mendekati
anaknya:“nak, berangkat lah sekolah, tidak mungkin kamu terus menerus mengurung
diri dikamarmu, relakanlah.. Ayahmu pergi dengan tenang, tuh Ade Suryati sudah
menunggumu dari tadi kasian. Anak tersebut, panggil saja Bunga, sedikitpun tak
keluar kata-kata kecuali bulir-bulir bening air mata yang terlihat dikelopak
matanya, sambil menyodorkan tangannya untuk berpamitan pada ibunya, kuatkan
hatimu nak.. Ibu juga merasakan apa yang kamu rasakan, gumam ibunya sambil
menatap kepergian bunga dan temannya.
Bunga anak penurut dan dia sangat menyayangi ayahnya,
dari semenjak kelas 4 Sekolah Dasar ayah Bunga sakit-sakitan, beliau seorang
pensiunan TNI AD batalion 323, semenjak pensiun beliau pergi berdakwah kesana
kemari menyebarkan agama Islam, padahal kampung yang beliau tempati itu sangat
jauh dari kendaraan baik roda 2 apalagi roda empat, terkadang berangkat mengaji
harus berjalan hingga 5-6 km, untuk mengaji ba’da magrib saja beliau pulang
hampir tengah malam ke rumah maklum jaman dulu kala, penyampai risalah masih
sangat sedikit itupun harus sembunyi-sembunyi karena mermbaca Al-Qur’an tidak
boleh diartikan(tabu), Tahayul, Bid’ah dan Khurafat masih sangat kental
didaerah itu. Cijuut, Jengkol Condong, Cilaku, Nusa, Cibubuhan, Cicabe, Pasir Muncang
dan disekitarnya di kabupaten Sumedang dia datangi. Dengan hanya bermodalkan
senter dan tongkat beliau pergi mengajar. Subhanallah ...perjuangan mu tiada
kira, terimakasih ya Allah, saya bangga menjadi anaknya tatkala saya mengenang
kembali kisah lamaku.
Diperjalanan Bunga dan Ade teman akrabnya juga Suryani, tak
seperti biasa hari hari cerianya seolah telah direnggut awan hitam kelabu dan
turun hujan yang sangat besar, gelap dan pekat, langit yang begitu cerah dengan
sinar sang surya seolah tiada terasa hingga tiba di sekolahnya SMPN 1 Cimanggung.
Tentu saja teman- temannya histeris sudah dua pekan Bunga tidak masuk kelas
karena ayahnya meninggal dunia.
“Hai.. apa kabar?, Eti sembari berlari memeluk bunga. Air
mata Bunga tak tertahankan, keluar kembali dengan derasnya, semenjak ayahnya
meninggal setiap ada orang yang bertanya tentangnya dia seperti itu. Bungaaaa!...sapa
Yeti, Nunung, Iis, Iwan dan teman lainnya menyambut kedatangannya dengan
kehangatan. Tapi...semua berakhir dengan tetesan airmata masing masing karena
iba, melihat Bunga menangis.
Suatu hari, Bunga cerita kepada Eti tiga hari sebelum
ayahnya meninggal, lalu Eti bicara pada gurunya, Pak Anton. Gini pak bunga
pernah bilang..
Aku heran dech! Saut Bunga.
Kenapa gitu? tanya Eti heran.
Gini bapakku udah dua hari kemarin, setiap ketemu orang
dia bilang gini,”Maafin bapa yah, bisi banyak dosa bapak mau meninggal. Orang
orang yang ketemu malah ngetawain,” masa orang mau meninggal tahu pak, katanya.
Tapi kenapa yah perasaanku dari sejak itu ga tenang. Aku selalu mimpi bapakku
meninggal udah dua malem ini. Eti tertegun dan menghela napas panjang. Eti sahabatku
dia orang Bunter Desa Cihanjuang,
Selasa 1 April 1984 jam 01:15, membawa kenangan terpahit
bagi Bunga, ayahnya benar-benar meninggal dunia. Hari itu merubah segalanya
dari keceriaan, kesenangan, dan cerewetnya Bunga telah direnggut dengan
meninggal ayahnya. Bunga anak keenam bersaudara lima kakaknya laki- laki semua.
Makanya Bunga merasa dia anak paling manja seperti anak semata wayang dari
keluarga itu. Bagaikan petir menyambar ditengah hari bolong saat Bunga
dibangunkan dalam keadaan ayahnya terbujur kaku. Sedih, hancur, kecewa, gundah
bersatu menjadi seperti gumpalan gunung es yang mencair, disaat dia
butuh-butuhnya kasih sayang seorang ayah dia harus kehilangan segalanya.
Bunga harus berani melawan malu oleh ejekan
teman-temannya karena tas dan sepatu bututnya, tapi dia bangga menjadi dirinya
sendiri yang mandiri tanpa bantuan orang lain. Hari ini banyak bunga-bunga yang
lain diluar sana yang sama hanya sekedar untuk beli kuota internet karena
pembelajaran daring, mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan nya karena
mereka sudah tidak memiliki ayah atau ibu yang mau memperjuangkan nasibnya.
Tok.. tok.. tok...
Pintu perpustakaan sekolah diketuk oleh seorang guru muda
yang cantik, tinggi semampai dan sangat ramah. Bu Ida namanya guru fisika yang
juga merangkap guru BP, beliau memang guru yang asyik dan setiap mau pulang
satu persatu kelas dikontrol, termasuk perpustakaan. Bunga?? Setelah melihat
pintu terbuka Bunga kaget juga. Kamu belum pulang? ini sudah sore lho?! sapa Bu
Ida dengan ramahnya.
Bunga menjawab, “Iya Bu.. sebentar lagi ini tugasnya
belum selesai, dan saya sudah minta ijin Pa Dani penjaga perpus agar bisa
mengerjakan tugas disini sembari mencari contoh pengerjaannya. “Ya sudah! cepat
pulang yah, nanti ibu kamu khawatir besok bisa dilanjutkan mengerjakan
tugasnya, kamu bisa datang lebih pagi, sebelum masuk kelas”. Ucap Bu Ida. “Baik
bu, saya beresin bukunya dulu terimakasih”. Jawabku.
Bu Ida pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala, beliau
sudah tahu persis kalo bunga tak akan pulang sebelum pekerjaan rumahnya selesai
dikerjakan. Bu Ida guru yang sangat baik, beliau suka menitipkan Bunga kepada
pesuruh sekolah, Pa Oman agar jangan dulu pulang sebelum Bunga pulang. Walau
bunga tidak tergolong anak paling cerdas tapi bunga selalu berada diperingkat
tiga besar karena dia anak yang rajin belajar dan tidak pernah mengeluh,
siapapun yang butuh bantuan dia selalu membantu kesulitan temannya makanya dari
hampir tiga ratus orang siswa kelas, hampir semua kenal Bunga. Menjelang magrib
bunga baru sampai dirumah dengan pakaian basah kuyup.
Assalamualaikum Bu... Ibu, Bunga hampir tidak mendengar
jawaban.
Kemana ibuku, gumamnya didalam hati. Bunga tinggal
dirumah bertiga dengan ibu dan kakaknya yang masih duduk dibangku SMA. Ibu... ibu
sekali lagi bunga memanggil-manggil ibunya, dia memutar kesamping untuk ke
kamar mandi yang posisinya dibelakang rumah karena basah kuyup kehujanan, handuk
dan sabun yang tersedia didekat kamar mandi langsung diambilnya. Setelah mandi
dan mencuci bajunya terdengar suara adzan dari surau belakang rumah.
Alhamdulillahirabbil aalamiin, ternyata sudah magrib.
Terimakasih ya Allah, aku sudah sampai kerumah, ia bergumam dalam hati kemudian
mengambil air wudhu, terus masuk kedalam rumah dan masuk kamar, terlihat sosok
ibunya tengah tertidur diatas ranjang, pantas tadi aku panggil-panggil ibu gak
nyahut ternyata ketiduran, mungkin kecapean.
Ibu-ibu aku membangunkannya! Ternyata ibu sakit ,badannya
demam tinggi, kak Fajar kemana bu? tanya aku keheranan.
Dengan suara parau ibuku menjawab, tadi pamanmu kesini, ngajak
Fajar nyabit padi yang mau dipanen, soalnya kalo siang terlalu banyak yang
ikut, jadi dipanen malam. Memang kak Fajar suka membantu ibuku panen baik
disawah paman atau uwa, kadang kalo siang aku juga suka ikut bantuin, walau
pohon padi itu membuat gatal -gatal tapi aku kasihan ibuku kerja sendirian. Kami
memang sudah terbiasa hidup seperti ini sepeninggal ayah, kalo mereka disawah
aku dirumah tidak bisa tidur nyiapin air mendidih ditungku yang memakai kayu
bakar waktu itu belum ada kompor gas seperti sekarang, paling yang aku pake
kompor sumbu itu pun pake minyak tanah dan tunggu beli kayu bakar atau mencari
sendiri dahan yang kering. Meskipun seperti itu kita semua tegar menghadapi
hidup ibuku penuh kasih sayang makanya aku dan kakakku sayang banget padanya.
Hanya linangan airmata kesedihan dan kerja keras yang
menemani Bunga setiap hari. Dia hanya terlihat tegar saat bersama ibunya,
karena dia enggak mau melihat ibunya sedih dan sampai terluka, terlalu pahit
hidup Bunga walau lima kakaknya diatas sudah sukses dan berlebih, tapi mereka
sudah pada punya kewajiban sendiri mengurus anak dan istrinya. Aku bahkan tak
pernah bilang jika ibu sakit karena ibu yang melarangnya hanya Bunga dan
kakaknya Fajar yang selalu kuat menopang hidup ibunya dengan tenaga dan kasih
sayangnya.
Selepas isya aku baru selesai menyiapkan masakan aku
membuat sop dan gorengan. Ibu-ibu, bangun makan dulu, bukannya makan ibuku
malah berlinang air mata dan memelukku. Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa
memberikan yang terbaik buat kalian, kalian cape pulang sekolah bukannya makan
enak tapi harus kerja keras membantu ibumu. Sudah ibu.. makanlah, Bunga gak
apa-apa, Bunga senang melakukannya yang penting ibu cepat sembuh. Besok ibu
jangan jualan dulu biar pulang sekolah Bunga yang berangkat, makanlah dan ini
obatnya, doakan anakmu selalu kuat menghadapi apapun. Hatiku terasa teriris dan
aku gigit bibirku agar tak keluar air mata didepan ibuku, prinsip hidupku ibuku
tidak harus tahu kepedihan hatiku, yang penting beliau harus tetap sehat dan
mendampingi aku hingga dewasa kelak, aku tak mau kehilangan untuk yang kedua
kalinya setelah kepergian ayahku. Banyak yang ingin menikahi ibuku sepeninggal
ayah, karena beliau cantik tapi ibuku tetap tidak mau, “ibu hanya ingin melihat
Fajar dan Bunga aja yang menikah kelak, dengan pasangan yang sholeh, solihah”,
sambil memeluk aku dan kakakku.
Aku bangga pada ibuku, dia sosok seorang wanita kuat,
teguh pendirian, santun dan ramah kepada semua orang, makanya rumahku saat itu
jadi dapur umum kampung itu, jika ada tetangga butuh sesuatu termasuk hal yang
kecil seperti bawang, gula, dan lain lain mereka tidak sungkan untuk meminta
dan mengambilnya sendiri dari dapurku.
Waktu itu aku sempat berfikir keras kenapa mereka tidak
ke warung? Kenapa ibu ku tidak berjualan bumbu saja toh bakal laku? seiring
berjalannya waktu aku semakin tahu bahwa harga dari sebuah keikhlasan adalah
persaudaraan yang sangat kental dan tak terpisahkan, bahkan terhalang tempat
dan waktu yang sangat jauh pun tidak berpengaruh.
Pantassss.......
Ayahku selalu berpesan bahwa anakku, ingatlah.. Kejujuran
dan Keikhlasan adalah modal kita untuk meraih kebahagiaan, sampai hari ini
diusia ku yang tidak muda lagi hampir kepala lima, kata-kata itu tidak pernah
hilang dari benakku, dan satu lagi (QS. Al-Hadid:4) pesan dari ibuku dalam
bahasa sunda yang kental:“Bunga anakku ibu titip itu, gusti Allah uninga dimana
hidep aya jeung keur naon kalakuan mangka hidep kudu ati-ati, entong midamel nu
allah teu ridho jeung jiwaraga urang kudu manfaat ker batur.” Yang dalam bahasa
indonesianya begini: “Bunga anakku ibu titip, Allah maha tahu dimana kamu
berada dan apa yang sedang kamu lakukan, maka berbuatlah sesuai yang Allah Swt
ridhoi, jadilah kamu orang yang
bermanfaat bagi orang lain. Seperti diberikan air segar saat aku kehausan
diteriknya matahari, ayah dan ibuku bagiku benar-benar sosok sempurna setelah Allah
dan Rasulnya.
Ibuku jualan pakaian, seprai, baju anak-anak dikreditkan,
jadi terkadang kalo aku pulang siang dari sekolah, aku ikut bawain dagangan
ibu. Itulah cara mempertahankan hidup kami sepeninggal ayah, saudaraku jauh
diluar sana ada yang di Jakarta, Surabaya dan ada yang dekat hanya berjarak
beberapa kilometer saja tapi mereka sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Hujan
turun dengan derasnya, Bunga berjalan gontai seakan menikmati perjalanannya, pakaian
seragam yang sudah basah kuyup tidak dia rasakan, seolah tidak terjadi apa-apa.
Tas dan sepatunya dia tinggal dikelas, karena takut kebasahan dia harus rela
pulang menjelang sore karena ada tugas fisika yang harus dia kerjakan, besok
harus dikumpulkan dan tak mungkin dibawa pulang karena hujan deras diluar sana.
Rasanya tak kuat aku menguak cerita ini, ini kisah nyata
yang terjadi dalam hidupku. Air mata yang sudah tersimpan begitu lama kini
terurai kembali, tapi aku harus menulis cerpen ini semoga menjadi motivasi buat
anak milenial sekarang ini, perjuangan aku yang ingin meneruskan sekolah hanya
dengan seorang ibu dan dimasa senang-senangnya bermain, bersenda gurau dengan
teman dan keluarga, kehilangan sosok seorang ayah terbaik yang aku miliki.
Hari ini kenapa penulis berani memberanikan diri untuk menguak tabir kepedihan dimasa lalu hanya untuk mengenang jasa mereka dan semoga pesan singkat mereka ada yang meneruskan, menjadi jembatan kebaikan yang mengalirkan pahala pada mereka yang telah tenang diatas sana. Suatu saat ada pembaca memperbanyak tulisan ini, dan aku yakin tulisan ini masih banyak sekali kekurangannya, tapi dari cerpen ini semoga banyak yang bisa mengambil pelajaran di era milenial ini, bahwa hidup berbagi tidak usah jadi kaya dulu, hidup terhormat tidak usah banyak harta dulu tapi satukan prinsip dalam kejujuran dan keikhlasan dalam melakukan sesuatu dan berikan kasih sayang penuh kepada semua orang yang engkau temui, semoga tulisan ini terpilih menjadi tuisan terbaik sehingga masih banyak, rasa hati penulis untuk berbagi cinta dengan kalian semuCerpen karangan : Euis komalasari
Diambil dari kisah nyata kehidupannya hanya nama tokoh
disamarkan.
selamat membaca
BalasHapusYUK HUBUNGI SEGERA BISA DIPANGGIL DENGAN CATATAN DIANTAR JEMPUT
BalasHapusSEMOGA JADI JALAN KESEMBUHAN KELUARGA ANDA
BalasHapus