ARTIKEL MOTIVASI  💪
Seri 1.


BISMILLAHIRROHMAANIR ROHIIM

Judul : BETAPA AWAN HITAM MERINTIH

Disebuah desa terpencil Dusun Cinangka , Desa Cimanggung, Kec.Cimanggung Kab.Sumedang, dari sinilah cerita ini berawal. Sebuah gubuk kecil sederhana, terdapat didepan rumah tanaman pohon jambu air yang menjulang tinggi.

Hari yang cerah, matahari memberikan cahayanya yang putih, hangat nya memudarkan embun pagi yang bersembunyi dibawah dedaunan, tak terkecuali pohon jambu air yang besar dan menjulang tinggi serta buah jambunya yang ranum kemerahan, didepan sebuah gubuk sederhana yang tersinari matahari, walau tidak mewah tapi terlihat bersih dan nyaman.

Terlihat wanita paruh baya sedang menyapu halaman.. tiba-tiba pintu terbuka seorang gadis kecil keluar dengan mengenakan seragam SMP lengkap dengan atributnya. Tapi tak terlihat senyuman diwajahnya yang terbilang ayu, gadis kecil mungil itu seolah menyimpan kehancuran yang dalam didalam hatinya, terlihat dari  bola matanya yang sembab sepertinya bekas tangisan. Serentak ibunya menyimpan sapu lidinya dan mendekati anaknya:“nak, berangkat lah sekolah, tidak mungkin kamu terus menerus mengurung diri dikamarmu, relakanlah.. Ayahmu pergi dengan tenang, tuh Ade Suryati sudah menunggumu dari tadi kasian. Anak tersebut, panggil saja Bunga, sedikitpun tak keluar kata-kata kecuali bulir-bulir bening air mata yang terlihat dikelopak matanya, sambil menyodorkan tangannya untuk berpamitan pada ibunya, kuatkan hatimu nak.. Ibu juga merasakan apa yang kamu rasakan, gumam ibunya sambil menatap kepergian bunga dan temannya.

Bunga anak penurut dan dia sangat menyayangi ayahnya, dari semenjak kelas 4 Sekolah Dasar ayah Bunga sakit-sakitan, beliau seorang pensiunan TNI AD batalion 323, semenjak pensiun beliau pergi berdakwah kesana kemari menyebarkan agama Islam, padahal kampung yang beliau tempati itu sangat jauh dari kendaraan baik roda 2 apalagi roda empat, terkadang berangkat mengaji harus berjalan hingga 5-6 km, untuk mengaji ba’da magrib saja beliau pulang hampir tengah malam ke rumah maklum jaman dulu kala, penyampai risalah masih sangat sedikit itupun harus sembunyi-sembunyi karena mermbaca Al-Qur’an tidak boleh diartikan(tabu), Tahayul, Bid’ah dan Khurafat masih sangat kental didaerah itu. Cijuut, Jengkol Condong, Cilaku, Nusa, Cibubuhan, Cicabe, Pasir Muncang dan disekitarnya di kabupaten Sumedang dia datangi. Dengan hanya bermodalkan senter dan tongkat beliau pergi mengajar. Subhanallah ...perjuangan mu tiada kira, terimakasih ya Allah, saya bangga menjadi anaknya tatkala saya mengenang kembali kisah lamaku.

Diperjalanan Bunga dan Ade teman akrabnya juga Suryani, tak seperti biasa hari hari cerianya seolah telah direnggut awan hitam kelabu dan turun hujan yang sangat besar, gelap dan pekat, langit yang begitu cerah dengan sinar sang surya seolah tiada terasa hingga tiba di sekolahnya SMPN 1 Cimanggung. Tentu saja teman- temannya histeris sudah dua pekan Bunga tidak masuk kelas karena ayahnya meninggal dunia.

“Hai.. apa kabar?, Eti sembari berlari memeluk bunga. Air mata Bunga tak tertahankan, keluar kembali dengan derasnya, semenjak ayahnya meninggal setiap ada orang yang bertanya tentangnya dia seperti itu. Bungaaaa!...sapa Yeti, Nunung, Iis, Iwan dan teman lainnya menyambut kedatangannya dengan kehangatan. Tapi...semua berakhir dengan tetesan airmata masing masing karena iba, melihat Bunga menangis.

Suatu hari, Bunga cerita kepada Eti tiga hari sebelum ayahnya meninggal, lalu Eti bicara pada gurunya, Pak Anton. Gini pak bunga pernah bilang..

Aku heran dech! Saut Bunga.

Kenapa gitu? tanya Eti heran.

Gini bapakku udah dua hari kemarin, setiap ketemu orang dia bilang gini,”Maafin bapa yah, bisi banyak dosa bapak mau meninggal. Orang orang yang ketemu malah ngetawain,” masa orang mau meninggal tahu pak, katanya. Tapi kenapa yah perasaanku dari sejak itu ga tenang. Aku selalu mimpi bapakku meninggal udah dua malem ini. Eti tertegun dan menghela napas panjang. Eti sahabatku dia orang Bunter Desa Cihanjuang,

Selasa 1 April 1984 jam 01:15, membawa kenangan terpahit bagi Bunga, ayahnya benar-benar meninggal dunia. Hari itu merubah segalanya dari keceriaan, kesenangan, dan cerewetnya Bunga telah direnggut dengan meninggal ayahnya. Bunga anak keenam bersaudara lima kakaknya laki- laki semua. Makanya Bunga merasa dia anak paling manja seperti anak semata wayang dari keluarga itu. Bagaikan petir menyambar ditengah hari bolong saat Bunga dibangunkan dalam keadaan ayahnya terbujur kaku. Sedih, hancur, kecewa, gundah bersatu menjadi seperti gumpalan gunung es yang mencair, disaat dia butuh-butuhnya kasih sayang seorang ayah dia harus kehilangan segalanya.

Bunga harus berani melawan malu oleh ejekan teman-temannya karena tas dan sepatu bututnya, tapi dia bangga menjadi dirinya sendiri yang mandiri tanpa bantuan orang lain. Hari ini banyak bunga-bunga yang lain diluar sana yang sama hanya sekedar untuk beli kuota internet karena pembelajaran daring, mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan nya karena mereka sudah tidak memiliki ayah atau ibu yang mau memperjuangkan nasibnya.

Tok.. tok.. tok...

Pintu perpustakaan sekolah diketuk oleh seorang guru muda yang cantik, tinggi semampai dan sangat ramah. Bu Ida namanya guru fisika yang juga merangkap guru BP, beliau memang guru yang asyik dan setiap mau pulang satu persatu kelas dikontrol, termasuk perpustakaan. Bunga?? Setelah melihat pintu terbuka Bunga kaget juga. Kamu belum pulang? ini sudah sore lho?! sapa Bu Ida dengan ramahnya.

Bunga menjawab, “Iya Bu.. sebentar lagi ini tugasnya belum selesai, dan saya sudah minta ijin Pa Dani penjaga perpus agar bisa mengerjakan tugas disini sembari mencari contoh pengerjaannya. “Ya sudah! cepat pulang yah, nanti ibu kamu khawatir besok bisa dilanjutkan mengerjakan tugasnya, kamu bisa datang lebih pagi, sebelum masuk kelas”. Ucap Bu Ida. “Baik bu, saya beresin bukunya dulu terimakasih”. Jawabku.

Bu Ida pergi sambil menggeleng-gelengkan kepala, beliau sudah tahu persis kalo bunga tak akan pulang sebelum pekerjaan rumahnya selesai dikerjakan. Bu Ida guru yang sangat baik, beliau suka menitipkan Bunga kepada pesuruh sekolah, Pa Oman agar jangan dulu pulang sebelum Bunga pulang. Walau bunga tidak tergolong anak paling cerdas tapi bunga selalu berada diperingkat tiga besar karena dia anak yang rajin belajar dan tidak pernah mengeluh, siapapun yang butuh bantuan dia selalu membantu kesulitan temannya makanya dari hampir tiga ratus orang siswa kelas, hampir semua kenal Bunga. Menjelang magrib bunga baru sampai dirumah dengan pakaian basah kuyup.

Assalamualaikum Bu... Ibu, Bunga hampir tidak mendengar jawaban.

Kemana ibuku, gumamnya didalam hati. Bunga tinggal dirumah bertiga dengan ibu dan kakaknya yang masih duduk dibangku SMA. Ibu... ibu sekali lagi bunga memanggil-manggil ibunya, dia memutar kesamping untuk ke kamar mandi yang posisinya dibelakang rumah karena basah kuyup kehujanan, handuk dan sabun yang tersedia didekat kamar mandi langsung diambilnya. Setelah mandi dan mencuci bajunya terdengar suara adzan dari surau belakang rumah.

Alhamdulillahirabbil aalamiin, ternyata sudah magrib. Terimakasih ya Allah, aku sudah sampai kerumah, ia bergumam dalam hati kemudian mengambil air wudhu, terus masuk kedalam rumah dan masuk kamar, terlihat sosok ibunya tengah tertidur diatas ranjang, pantas tadi aku panggil-panggil ibu gak nyahut ternyata ketiduran, mungkin kecapean.

Ibu-ibu aku membangunkannya! Ternyata ibu sakit ,badannya demam tinggi, kak Fajar kemana bu? tanya aku keheranan.

Dengan suara parau ibuku menjawab, tadi pamanmu kesini, ngajak Fajar nyabit padi yang mau dipanen, soalnya kalo siang terlalu banyak yang ikut, jadi dipanen malam. Memang kak Fajar suka membantu ibuku panen baik disawah paman atau uwa, kadang kalo siang aku juga suka ikut bantuin, walau pohon padi itu membuat gatal -gatal tapi aku kasihan ibuku kerja sendirian. Kami memang sudah terbiasa hidup seperti ini sepeninggal ayah, kalo mereka disawah aku dirumah tidak bisa tidur nyiapin air mendidih ditungku yang memakai kayu bakar waktu itu belum ada kompor gas seperti sekarang, paling yang aku pake kompor sumbu itu pun pake minyak tanah dan tunggu beli kayu bakar atau mencari sendiri dahan yang kering. Meskipun seperti itu kita semua tegar menghadapi hidup ibuku penuh kasih sayang makanya aku dan kakakku sayang banget padanya.

Hanya linangan airmata kesedihan dan kerja keras yang menemani Bunga setiap hari. Dia hanya terlihat tegar saat bersama ibunya, karena dia enggak mau melihat ibunya sedih dan sampai terluka, terlalu pahit hidup Bunga walau lima kakaknya diatas sudah sukses dan berlebih, tapi mereka sudah pada punya kewajiban sendiri mengurus anak dan istrinya. Aku bahkan tak pernah bilang jika ibu sakit karena ibu yang melarangnya hanya Bunga dan kakaknya Fajar yang selalu kuat menopang hidup ibunya dengan tenaga dan kasih sayangnya.

Selepas isya aku baru selesai menyiapkan masakan aku membuat sop dan gorengan. Ibu-ibu, bangun makan dulu, bukannya makan ibuku malah berlinang air mata dan memelukku. Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa memberikan yang terbaik buat kalian, kalian cape pulang sekolah bukannya makan enak tapi harus kerja keras membantu ibumu. Sudah ibu.. makanlah, Bunga gak apa-apa, Bunga senang melakukannya yang penting ibu cepat sembuh. Besok ibu jangan jualan dulu biar pulang sekolah Bunga yang berangkat, makanlah dan ini obatnya, doakan anakmu selalu kuat menghadapi apapun. Hatiku terasa teriris dan aku gigit bibirku agar tak keluar air mata didepan ibuku, prinsip hidupku ibuku tidak harus tahu kepedihan hatiku, yang penting beliau harus tetap sehat dan mendampingi aku hingga dewasa kelak, aku tak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya setelah kepergian ayahku. Banyak yang ingin menikahi ibuku sepeninggal ayah, karena beliau cantik tapi ibuku tetap tidak mau, “ibu hanya ingin melihat Fajar dan Bunga aja yang menikah kelak, dengan pasangan yang sholeh, solihah”, sambil memeluk aku dan kakakku.

Aku bangga pada ibuku, dia sosok seorang wanita kuat, teguh pendirian, santun dan ramah kepada semua orang, makanya rumahku saat itu jadi dapur umum kampung itu, jika ada tetangga butuh sesuatu termasuk hal yang kecil seperti bawang, gula, dan lain lain mereka tidak sungkan untuk meminta dan mengambilnya sendiri dari dapurku.

Waktu itu aku sempat berfikir keras kenapa mereka tidak ke warung? Kenapa ibu ku tidak berjualan bumbu saja toh bakal laku? seiring berjalannya waktu aku semakin tahu bahwa harga dari sebuah keikhlasan adalah persaudaraan yang sangat kental dan tak terpisahkan, bahkan terhalang tempat dan waktu yang sangat jauh pun tidak berpengaruh.

Pantassss.......

Ayahku selalu berpesan bahwa anakku, ingatlah.. Kejujuran dan Keikhlasan adalah modal kita untuk meraih kebahagiaan, sampai hari ini diusia ku yang tidak muda lagi hampir kepala lima, kata-kata itu tidak pernah hilang dari benakku, dan satu lagi (QS. Al-Hadid:4) pesan dari ibuku dalam bahasa sunda yang kental:“Bunga anakku ibu titip itu, gusti Allah uninga dimana hidep aya jeung keur naon kalakuan mangka hidep kudu ati-ati, entong midamel nu allah teu ridho jeung jiwaraga urang kudu manfaat ker batur.” Yang dalam bahasa indonesianya begini: “Bunga anakku ibu titip, Allah maha tahu dimana kamu berada dan apa yang sedang kamu lakukan, maka berbuatlah sesuai yang Allah Swt ridhoi,  jadilah kamu orang yang bermanfaat bagi orang lain. Seperti diberikan air segar saat aku kehausan diteriknya matahari, ayah dan ibuku bagiku benar-benar sosok sempurna setelah Allah dan Rasulnya.

Ibuku jualan pakaian, seprai, baju anak-anak dikreditkan, jadi terkadang kalo aku pulang siang dari sekolah, aku ikut bawain dagangan ibu. Itulah cara mempertahankan hidup kami sepeninggal ayah, saudaraku jauh diluar sana ada yang di Jakarta, Surabaya dan ada yang dekat hanya berjarak beberapa kilometer saja tapi mereka sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Hujan turun dengan derasnya, Bunga berjalan gontai seakan menikmati perjalanannya, pakaian seragam yang sudah basah kuyup tidak dia rasakan, seolah tidak terjadi apa-apa. Tas dan sepatunya dia tinggal dikelas, karena takut kebasahan dia harus rela pulang menjelang sore karena ada tugas fisika yang harus dia kerjakan, besok harus dikumpulkan dan tak mungkin dibawa pulang karena hujan deras diluar sana.

Rasanya tak kuat aku menguak cerita ini, ini kisah nyata yang terjadi dalam hidupku. Air mata yang sudah tersimpan begitu lama kini terurai kembali, tapi aku harus menulis cerpen ini semoga menjadi motivasi buat anak milenial sekarang ini, perjuangan aku yang ingin meneruskan sekolah hanya dengan seorang ibu dan dimasa senang-senangnya bermain, bersenda gurau dengan teman dan keluarga, kehilangan sosok seorang ayah terbaik yang aku miliki.

Hari ini kenapa penulis berani memberanikan diri untuk menguak tabir kepedihan dimasa lalu hanya untuk mengenang jasa mereka dan semoga pesan singkat mereka ada yang meneruskan, menjadi jembatan kebaikan yang mengalirkan pahala pada mereka yang telah tenang diatas sana. Suatu saat ada pembaca memperbanyak tulisan ini, dan aku yakin tulisan ini masih banyak sekali kekurangannya, tapi dari cerpen ini semoga banyak yang bisa mengambil pelajaran di era milenial ini, bahwa hidup berbagi tidak usah jadi kaya dulu, hidup terhormat tidak usah banyak harta dulu tapi satukan prinsip dalam kejujuran dan keikhlasan dalam melakukan sesuatu dan berikan kasih sayang penuh kepada semua orang yang engkau temui, semoga tulisan ini terpilih menjadi tuisan terbaik sehingga masih banyak, rasa hati penulis untuk berbagi cinta dengan kalian semuCerpen karangan : Euis komalasari

Diambil dari kisah nyata kehidupannya hanya nama tokoh disamarkan.

     

Komentar

Posting Komentar